Proposal membangun karakter pemuda

. PENDAHULUAN

Dalam sejarah nasional pemuda-politik Indonesia memainkan peranan yang sangat signifikan; dan bukan kebetulan jika usia mereka pada umumnya di bawah 30 tahun. Sekalipun inspirator pembentukan Budi Utomo (BU) yang menjadi sebagai manifesto kebangkitan nasional kita, yaitu dr. Wahidin Soedirohoesodo berusia 51 tahun, tetapi dua orang mudalah yang membuat BU terbentuk dan berkembang. Keduanya itu adalah Tjipto Mangunkusumo berumur 23 tahun dan Radjiman berusia 29 tahun.

Lebih dari sekadar tampil, kiprah para pemuda ketika itu disegani sebab merekalah yang proreformasi, sementara kaum tuanya cenderung prostatusquo. Akibat dihambat golongan tua yang terdiri dari para bupati Jawa dan Madura,  Radjiman maupun Tjipto gagal meraih kepemimpinan dalam kongres pertama BU di Jogyakarta. Mereka takut bahwa pengaruh mereka terhadap pemerintah Hindia Belanda akan terancam oleh kehadiran BU kalau dipimpin anak-anak muda.

Pada masa awal kebangkitan nasional ini, pemuda lain juga tampil. Dialah Tirtoadisurjo. Dalam usia 29 tahun, pada 1909 ia mendirikan Sarekat Dagang Islamiyah di Batavia. Pada tahun 1910, ia mendirikan organisasi sejenis ini di Bogor. Bahkan sebelumnya dalam usia 23 tahun pada tahun 1903 ia sudah mendirikan surat kabar pertama yang didirikan, didanai, dan dijalankan oleh orang-orang Indonesia asli, yaitu mingguan berbahasa Melayu Soenda Berita, yang dicetak di Cianjur. Pada tahun 1907 ia mendirikan mingguan Medan Prijaji di Batavia.

Dalam kemudaannya, pada tahun 1911 Tortoadisurjo mendorong Haji Samanhudi, pengusaha batik dari Surakarta untuk mendirikan Sarekat Dagang Islam. Di Surabaya, HOS Tjokroaminoto menjadi pimpinan cabang Surabaya. Jika 1911 jadi patokan, maka pada waktu itu Samanhudi berusia 43 tahun sedangkan Tjokroaminoto berusia 29 tahun. Tampaklah di sini para penggerak pertama kebangkitan nasional kita sekitar tahun 1908 umumnya adalah para pemuda, rata-rata di bawah 30 tahun.

Kepeloporan pemuda itu terus berlanjut hingga ke masa-masa berikutnya. Di sekitar kemerdekaan pada 1945, sebagian besar tokoh dan pemimpinnya ternyata generasi muda dimana usianya bekisar 30-an. Beberapa diantaranya adalah Amir Syarifuddin (38 tahun), Sutan Syahrir (36 tahun), Sultan Hamengkubuwono IX (33 tahun), Adam Malik (28 tahun), AH Nasution (27 tahun), Djatikoesoemo (28 tahun), TB Simatupang  (25 tahun). Di kemudian hari, sejarah mencatat bahwa kaum muda pergerakan ini menjadi tokoh politik tangguh. Tidak hanya piawai berpolitik, tetapi juga kuat karakter kebangsaannya. Bukan cuma berani menghadapi penjajah, melainkan pula sungguh-sungguh mengisi kemerdekaan.

Di era reformasi, kita kembali menyaksikan kemunculan pemuda-politik berusia di bawah tiga puluh tahun. Sesuai dengan alam demokrasi, di antara ribuan pemuda politik itu ada yang ketokohannya muncul melalui partai-partai politik. Tak kurang dari 1800 pemuda politik yang menjadi anggota DPR, DPD, dan DPRD Propinsi, Kabupaten, dan Kota yang berusia di bawah 30 tahun.

Seraya mengingat ribuan pemuda politik lainnya, pemuda politik anggota perwakilan rakyat ini merupakan tantangan sekaligus potensi untuk menjadi pemimpin Indonesia di masa depan. Mengikuti mekanisme pemilu yang berlaku, posisi politik yang mereka tempati sekarang merupakan hasil persaingan sengit bukan hanya dengan lawan politik dari luar partai melainkan teman politik sesama partai. Mekanisme itu secara langsung atau tidak membuat mereka terbiasa dengan usaha saling mengalahkan lawan bahkan menundukkan kawan.

Dalam sistem politik seperti itu, nilai-nilai nasionalisme jelas bisa terkikis oleh nilai-nilai pasar politik. Dalam sistem politik yang menekankan arti penting daerah pemilihan (dapil), pandangan-dunia (world view) pemuda politik kita bisa menyempit; dari hal-hal yang bersifat nasional menjadi sangat lokal. Bukan mustahil loyalitasnya pun berubah hanya loyal pada partai politik belaka dan abai pada kepentingan nasional.

Termasuk kedalam tantangan ini adalah jikalau para pemuda-politik yang telah menang di dapilnya masing-masing itu memandang kedudukannya di dewan perwakilan rakyat sebagai pekerjaan yang menghasilkan gaji dan fasilitas yang layak dinikmati. Sesungguhnya di pundak mereka terpikul tugas-tugas kenegaraan yang strategis: membuat undang-undang bersama pemerintah, menyusun dan menyetujui anggaran pembangunan, dan mengawasi jalannya roda pemerintahan.

Melalui tiga tugas pokoknya itulah mereka bisa mempengaruhi corak dan arah perkembangan bangsa ini. Secara normatif, sudah seharusnya mereka menghasilkan produk-produk politik yang mengutamakan kepentingan nasional (national interest). Namun bilamana tidak hati-hati, mereka dapat dikendalikan oleh kekuatan pasar demi kepentingan segelintir orang baik di dalam negeri maupun luar negeri.

Sudah tentu, partai-partai politiklah yang pertama-tama memiliki tanggung jawab membina national and character building 1800 pemuda politik tersebut. Sudah seharusnya masing-masing partai politik membina semangat nasionalisme kadernya secara berkelanjutan. Pendiri, pembina, penasihat, dan tokoh-tokoh setiap partai politik memiliki kewajiban memberi teladan baik melalui ucapan, tulisan, karya, maupun tindakan nyata dalam masalah kebangsaan ini.

Pihak lain yang ikut bertanggung jawab menghantarkan mereka kepada kedewasaan berpolitik adalah masyarakat, yang anggota-anggotanya tiada lain adalah para pemuda politik itu sendiri. Dengan kata lain, sudah seharusnya setiap orang dari 1800 pemuda politik itu memiliki kesadaran pribadi untuk memupuk semangat nasioanalisme di tengah praktik politik lokal. Sudah semstinya mereka menggelorakan sendiri ruh kebangsaan dalam dirinya maisng-masing.

Deklarasi pemuda politik ini merupakan wujud kesadaran para pemuda anggota dewan perwakilan rakyat berusia di bawah 30 tahun untuk terus memupuk semangat nasionalisme di tengah praktik politik yang penuh persaingan. Melalui deklarasi ini, hendak dikuatkan kembali tekad Sumpah Pemuda 1928. Seraya melakukan kontekstualisasi dengan isu-isu global, deklarasi beserta kegiatan-kegiatan ikutannya diharapkan mampu melahirkan pemimpin-pemimpin politik Indonesia yang memainkan peranan penting pada tingkat dunia.

Deklarasi dan kegiatan pemuda politik ini harus dirancang secara berkelanjutan mengingat dalam setiap pemilu selalu terbuka peluang lahirnya pemuda politik di bawah 30 tahun, dengan tantangan dan potensi yang sama. Sedangkan keperluan dan keharusan untuk mengutamakan kepentingan nasional di atas kepentingaan pribadi dan kelompok tidak pernah berubah. Ia tetap menjadi tugas dan tanggung jawab mereka yang menjadi pemimpin, baru kemudian seluruh rakyat.

TEMA KEGIATAN

“UNTUK INDONESIA”  Pemuda Membangun Karakter, Terdepan dan Inspiratif Dunia

III. MAKSUD DAN TUJUAN

Maksud diadakannya acara ini adalah:

  1. Mempertemukan para pemuda politisi anggota parlemen seluruh Indonesia yang berusia + 30 tahun atau dibawahnya untuk saling mengenal, memahami, untuk selanjutnya menjalin komunikasi dan jaringan untuk memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa.
  2. Mendorong motivasi, perhatian, dan tanggung jawab para pemuda politisi anggota parlemen untuk membangun rakyat dan budaya penyelenggaraan negara yang mulia dan bermartabat.
  3. Membuat momentum dan rujukan spirit yang kuat untuk mengembangkan karakter pemuda politisi sebagai dasar mewujudkan Indonesia inspiratif perkembangan peradaban dunia melalui deklarasi Tekad Suci Untuk Indonesia.
  4. Membangun sinergis positif konstruktif antara pemuda pilitisi dengan kalangan pers sebagai sesama pilar demokrasi mewujudkan Indonesia pemimpin dunia.

Tujuan penyelenggaraan acara ini adalah:

  1. Bertemunya para pemuda politisi anggota parlemen seluruh Indonesia yang berusia + 30 tahun atau dibawahnya untuk saling mengenal, memahami, untuk selanjutnya menjalin komunikasi dan jaringan untuk memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa.
  2. Terdorongnya motivasi, perhatian, dan tanggung jawab para pemuda politisi anggota parlemen untuk membangun rakyat dan budaya penyelenggaraan negara yang mulia dan bermartabat.
  3. Terbentuknya momentum dan rujukan spirit yang kuat untuk mengembangkan karakter pemuda politisi sebagai dasar mewujudkan Indonesia inspiratif perkembangan peradaban dunia melalui deklarasi Tekad Suci Untuk Indonesia.
  4. Terbangunnya sinergis positif konstruktif antara pemuda pilitisi dengan kalangan pers sebagai sesama pilar demokrasi mewujudkan Indonesia memimpin dunia.

IV. RENCANA DAN TINDAK LANJUT

Diharapkan Pertemuan Pemuda Politisi Anggota Parlemen melahirkan kesadaran pemuda politisi bahwa mereka harus senantiasa menjalin komunikasi sesama pemuda politisi dan senantiasa bertindak dalam prinsip “Untuk Indonesia” dan pasca pertemuan ini dilakukan fasilitasi komunikasi dan kegiatan lain segingga pencapaian tujuan bisa dilakukan secara terus menerus pada skala yang lebih kecil dan bentuk yang lebih dinamis. Jika kegiatan Pertemuan Pemuda Politisi Anggota Parlemen Seluruh Indonesia lebih didesign untuk membentuk kesadaran maka rencana tindak lanjut lebih diarahkan kepada pembentukan persepsi.

V. PUSAT INFORMASI KEGIATAN

Mapilu-PWI           : Gd. Dewan Pers Lt. IV, Jl. Kebon Sirih 34 jakarta 10110

Tlp. 021-3513578, 3513577, 3453131, Fax. 021-3453175

Email                     : panitia.pertemuanpolitik@gmail.com

VI. WAKTU DAN TEMPAT PENYELENGGARAAN

Waktu        : 3-4 November 2010

Tempat      : Hall A1, A2, dan A3 Jakarta Internasional Expo, Kemayoran, Jakarta

VII. PENYELENGGARAAN

MARKETING COMMUNICATION (Marcom)

Markom diselenggarakan dalam bentuk konferensi pers, talkshow di televisi dan radio, iklan terus menerus selama 10 hari di televis dan media lain, kerjasama pemberitaan dengan media yang ada di seluruh Indonesia.  Sebelum kegiatan juga dilaksanakan koordinasi dengan Kepala Badang Kesbanglinmas prov dan Kabupaten/Kota untuk menunjang penggeloraan kesadaran mengenai nilai pentingnya agenda ini dalam perjalanan bangsa dan negara Indonesia dimasa depan.

PEMBUKAAN (PEMENTASAN SENI, MONOLOG, PUISI, DAN PIDATO KEBUDAYAAN)

Penggunaan kekuatan seni panggung untuk menggugah kesadaran pemuda politisi anggota parlemen tentang eksistensi Indonesia sebagai sebuah negara bangsa yang memiliki identitas dan karakter sendiri dan penegasan Indonesia memilih demokrasi yang diadaptasikan dengan identitas keIndonesiaan, dan kebutuhan akan bersinergisnya sesama pemuda politisi khususnya dan dengan kalangan pers umumnya untuk mewujudkan Indonesia sebagai negara bangsa inspiratif dan pemimpin dunia.

DISKUSI PANEL

Penajaman terkait dengan pentingnya pemuda politisi berinteraksi dan berkomunikasi sebagai bagian terpenting dalam membangun karakter perpolitikan Indonesia masa depan dalam memmbangun rakyat dan budaya bernegara yang mulia dan bermartabat sebagai prasyarat untuk menjadi negara yang mampu memberikan inspirasi bagi dunia melalui karya-karya terbaiknya , yang pada akhirnya didesgn membawa Indonesia pada posisi barisan terdepan pemimpin dunia. Dan bagaimana keterlibatan pilar keempat demokrasi, pers, dalam proses tersebut.

DEKLARASI “TEKAD SUCI UNTUK INDONESIA”

Pemuda politisi anggota parlemen perwakilan masing-masing partai mendeklarasikan sebuah naskah deklarasi yang menjadi basis pemuda politisi untuk bersama-sama mewujudkan Indonesia sebagai negara bangsa  nomor satu di dunia. Deklarasi ini juga dihadiri oleh tokoh-tokoh nasional, daerah, dan internasional. Kehadiran tokoh-tokoh diharapkan sebagai simbol solidnya dukungan para tokoh tersebut  kepada Pemuda Politisi Anggota Parlemen Seluruh Indonesia mempersiapakan diri sebagai sebuah komunitas generasi perpolitikan Indonesai.

ANUGERAH “UNTUK INDONESIA”

Pemberian anugerah kepada orang atau sekelompok orang yang terlibat dalam momen-momen penting dalam sejarah Indonesia dan yang pernah memberikan pengabdiannya dan mengukir prestasi dengan implikasi luas dan dikategorikan Untuk Indonesa. Anugerah ini akan diberikan kepada tokoh Boedi Oetomo, Sumpah Pemuda, Proklamator, dan Seluruh Presiden RI.

VIII. PESERTA

Sekitar 1.800 Anggota DPR, DPD, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota seluruh Indonesia yang berumur dibawah 30 tahun pada tahun 2009. Pada acara puncak ikut diharapkan dihariri Presiden, mantan Presiden, Wakil Presiden, mantan Wakil Presiden, Pimpinan Paartai, pimpinan lembaga negara, Menteri KIB II, Gubernur,Bupati/Walikota, Ketua DPRD, Sekretaris Dewan, tokoh masyarakat, tokoh pers, sehingga pada puncak acara ini diperkirakan dihadiri oleh 4.000 orang.

IX. KERITERIA KEBERHASILAN

    1. Sebahagian besar peserta hadir;
    2. Dideklarasikannya Deklarasi Pemuda Politisi Anggota Parlemen Seluruh Indonesia;
    3. Tokoh-tokoh politik nasional, tokoh masyarakat, tokoh pers, dan undangan hadir dan menunjukan apresiasi;
    4. Mendapat sambutan positif dalam pemberitaan media

X. PEMBIAYAAN DAN SUMBER DANA KAS PANITIA

PEMBIAYAAN

  1. Pra Kegiatan dan evaluasi kegiatan dari Kas Panitia;
  2. Transportasi dan akomodasi penginapan peserta dan tamu undangan pejabat negara dari anggaraan dinas instansi masing-masing (DPR, DPD, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota) berdasarkan radiogram Mendagri;
  3. Transportasi dan akomodasi penginapan tamu undangan non-pejabat Negara dari Kas Panitia;
  4. Pelaksanaan kegiatan dan Konsumsi dari Kas Panitia.

SUMBER DANA KAS PANITIA

Dana Kas Panitia untuk mendukung kegiatan Pertemuan Pemuda Politisi Anggota Parlemen bersumber dari APBN dan atau sumber lain yang tidak melanggar ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

XI. DUKUNGAN

Acara Pertemuan Pemuda Politisi Anggota Parlemen ini diharapkan mendapat dukungan dari :

  • Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI
  • Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI
  • Kementerian Koordinator Politik Hukum dan Keamanan RI
  • Kementerian Dalam Negeri RI
  • Kementerian Negara Pemuda dan Olah Raga RI
  • Persatuan Wartawan Indonesia (PWI)
  • Partai Politik
  • Dewan Perwakilan Rakyat Daaerah (DPRD) Provinsi seluruh Indonesia
  • Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten/Kota seluruh Indonesia
  • Media Massa
  • Pihak Swasta

XII. SUSUNAN ACARA

( Terlampir )

XIII. PENUTUP

Demikianlah proposal ini dirumuskan dengan harapan kegiatan ini menjadi poin strategis bagi lahirnya negarawan-negarawan besar Indonesia di masa yang akan datang dan poin strategis untuk kejayaan negara bangsa Indonesia yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945.


 

SUSUNAN ACARA DAN MATERI

PERTEMUAN PEMUDA POLITISI ANGGOTA PARLEMEN SELURUH INDONESIA

3 November 2010

12.00 – 17.00 Peserta Check-in di hotel masing-masing
17.00 – 19.00 Peserta makan malam dan pemberangkatan menuju lokasi acara dan registrasi
19.00 – 22.00 Acara Pembukaan Pertemuan Pemuda Politisi Anggota Parlemen
19.00 – 19.05 Pembukaan oleh MC
19.05 – 19.10 Menyanyikan Indonesia Raya
19.10 – 19.15 Laporan Ketua Panitia Pelaksana
19.15 – 19.25 Sambutan Ketua Umum PWI Pusat
19.25 – 19.35 Sambutan Menteri Dalam Negeri RI
19.35 – 19.45 Sambutan Menteri Pemuda dan Olah Raga
19.45 – 19.50 Mendagri, Menpora, Ketum PWI menekan tombol tanda Pembukaan Acara
19.50 – 21.50 Kombinasi Pentas Teater, Pidato Kebudayaan, Monolog, dan Pembacaan Puisi untuk menggambarkan dan membangun kesadaran eksistensi bangsa Indonesia sebagai sebuah entitas dalam peradaban global dengan segala kekayaan spiritual dan pshikologis, dan pilihan bangsa Indonesia menggunakan konsep demokrasi yang sudah diadaptasikan dengan nilai dan semangat Pancasila untuk membangun rakyat dan budaya bernegara untuk memenangkan kompetisi global melalui karya-karya anak bangsa yang inspiratif bagi perkembangan peradaban global. Puncaknya adalah terbangunnya kesadaran Pemuda Politisi Anggota Parlemen tentang pentingnya mempersiapakan karakter diri, saling komunikasi, dan sinergis walaupun berbeda partai guna menjadikan Indonesia inspirasi dan pemimpin dunia
21.50 – 22.00 Penutup

4 November 2010

08.30 – 10.15 Diskusi Panei I
  Sub Thema

“Membangun Rakyat dan Budaya Bernegara Yang Mulia dan Bermartabat Berbasis Pancasila”

  Rancangan Nara Sumber :

  1. Partai Politik
    1. Ketua UmumPartai Demokrat
    2. Presiden Partai Keadilan Sejahtera
    3. Ketua Umum Partai Hati Nurani Rakyat
    4. Pers
      1. Jacob Oetama (Kompas Gramedia Group)
      2. Chaerul Tanjung (Trans Group)
      3. Prof. Dr. Mahfud MD (Ketua Mahkamah Konstitusi)

Moderator : Dr. J. Kristiadi

10.15 – 12.00 Diskusi Panel II
  Sub Thema

“Sinergisitas 1.800 Pemuda Politisi : Harapan dan Kekuatan Indonesia Masa Depan”

  Rancangan Nara Sumber

  1. Partai Politik
    1. Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan
    2. Ketua Umum Partai Amanat Nasional
    3. Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa
    4. Pers
      1. H. Margiono (Ketua Umum PWI)
      2. Karni Ilyas
      3. Dr. Imam B. Prasodjo

Moderator : Prof. Dr. Pratiknyo (Dekan FISIPOL UGM)

12.00 – 13.00 Ishoma
13.00 – 14.45 Diskusi Panel III
  Sub Thema

“Kekuatan Karakter dan Karya Kolektif Anak Bangsa : Inspirasi Dunia”

  Rancangan Nara Sumber

  1. Partai Politik
    1. Ketua Umum Partai Golkar
    2. Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan
    3. Ketua Dewan Pembina Partai Gerakan Indonesia Raya
    4. Pers
      1. Jawa Pos Group
      2. Dra. Rosarita Niken Widiastuti Msi (Dirut RRI)
      3. Dr. Dino Patti Jalal / Dr. Anis Baswedan

Moderator  : Prof. Dr. Firmansyah (Dekan FE UI)

14.45 – 17. 00 Peserta kembali ke hotel, makan malam, dan persiapan acara puncak
17.00 – 19.00 Persiapan peserta ke dan di tempat acara puncak, diisi Orchestra Angkatan darat
19.00 – 19.30 Menunggu kedatangan Presiden, disambut Orchestra Angkatan Darat
19.30 – 21.50 Acara Puncak
19.30 – 19.35 Pembukaan oleh MC
19.35 – 19.40 Menyanyikan Indonesia Raya dan Mengheningkan Cipta diiringi Orchectra Angkatan Darat
19.40 – 19.45 Laporan Ketua Panitia Pelaksana
19.45 – 19.50 Sambutan Ketua Umum PWI Pusat
19.50 – 19.55 Sambutan Menteri
19.55 – 20.25 Penyerahan Penghargaan “UNTUK INDONESIA” kepada :

  1. Tiga tokoh Boedi Oetama;
  2. Ketua dan Sekretaris Panitia Sumpah Pemuda 1928;
  3. Dua Tokoh Proklamator yang dengan keberanian luar biasa sudah memproklamirkan kemerdekaan Indonesia;
  4. Sumanang, Ketua Umum PWI Pertama dan Panitia Sumpah Pemuda 1928;
  5. Presiden RI I, Ir. Soekarno atas jasa dan pengabdiannya dalam membangun Indonesia pada awal kemerdekaan sehingga mendapat pengakuan penuh dari dunia Internasional;
  6. Presiden RI II, Jenderal Besar Soeharto atas jasa dan pengabdiannya dalam pembangunan dan swasembada pangan;
  7. Presiden RI III, Prof. Dr. BJ Habibie atas jasa dan pengabdiannya dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, membuka kebebasan pers dan desakralisasi jabatan politik;
  8. Presiden RI IV, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) atas jasa dan pengabdiannya dalam toleransi
  9. Presiden RI V, Megawati Sukarnoputri atas jasa dan pengabdiannya dalam demokratisasi proses politik, khususnya Pemilu, Pilpres, dan Pemilukada secara langsung;
  10. Presiden RI VI, Dr. Susilo Bambang Yudhoyono, atas jasa dan pengabdiannya dalam rekonsiliasi nasional, kebangkitan kembali ekonomi Indonesia, melanjutkan reformasi dan demokratisasi serta Law Enforcement ;
20.25 – 20.35 Orchestra Angkatan Darat  berkolaborasi dengan seni Indonesia mengiringi tari yang menggambarkan kesiapan Indonesia menginspirasi dan memimpin dunia
20.35 – 20.40 Pemutaran Film Kilas Balik Perjalanan Pemuda Politisi Indonesia
20.40 – 21.00 Deklarasi “Tekad Suci Untuk Indonesia”
21.00 – 21.30 Pidato Kepala Negara/Presiden  RI, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono
21.00 – 21.50 Persembahan Orchestra Angkatan Darat diakhiri dengan lagu “Padamu Negeri” dan “Gebyar-Gebyar”
21.50 – 22.00 Penutup, Presiden dan undangan meninggalkan tempat acara

 

About rachmatcurahno05

male
This entry was posted in pemberdayaan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s